Suasana kelas gaduh. Dua orang siswa SD sedang berkelahi. Saya adalah salah satunya. Ketika itu saya sedang ‘berangkulan’ dengan teman sekelas saya, Fuad, seperti layaknya pertarungan jarak dekat dua orang petinju di atas ring. Di tangan, saya memegang sebuah pensil. Entah bagaimana kejadian tepatnya, yang jelas saya merasa menancapkan ujung pensil itu ke punggung ‘lawan tarung’ saya. Dan ketika saya lihat pensil tersebut, ujungnya telah patah. Entah patah karena tertancap di punggung Fuad, atau karena menusuk meja dan kursi di sekitar kami.
Sebelum guru datang, perkelahian tersebut sudah mampu dihentikan. Teman-teman yang lain berhasil memisahkan kami. Perkelahian itu membuat diri saya dan Fuad hampir menangis. Sambil berjalan menjauh, kami saling mengeluarkan kata-kata yang mengancam dan mengejek satu sama lain.
Di hari berikutnya, terjadi ‘perang dingin’ antara saya dan ‘bekas lawan’ saya itu. Masing-masing dari kami berkumpul dengan teman-teman yang sepaham saja. Saya berkumpul dengan teman-teman yang membela saya dan begitu juga dengan Fuad.
Tapi untunglah, ‘perang dingin’ antara saya dan Fuad tidak berlangsung lama. Beberapa hari berikutnya, kami mengaitkan jari kelingking kami sebagai tanda ‘perjanjian damai’. Selanjutnya kami pun bergaul seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kami. Mungkin ini adalah salah satu sisi baik dari masa anak-anak, yang dengan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, berlainan dengan orang-orang yang sudah memiliki usia lebih tua.
Perkelahian saya dengan Fuad, adalah perkelahian pertama saya di sekolah. Perkelahian itu juga mungkin menjadi perkelahian terakhir saya dengan seorang teman. Di SMA, walaupun saya hampir berkelahi dengan seorang teman sekelas, itu tidak terjadi. Saya dan teman saya itu hanya cekcok mulut. Dia hanya tidak bisa menerima ketika saya menegur dan melarangnya agar tidak berjudi di kelas. Mungkin karena cara yang salah ketika itu.
Setalah perdamaian itu, hubungan saya dan Fuad tetap akrab. Masih teringat dalam kenangan saya, di masa itu Fuad memiliki sebuah sepeda, sedang saya, selain belum mempunyai sepeda, juga belum bisa menaikinya. Beberapa hari dalam seminggu, saya dan Fuad bermain ke rumah salah seorang teman yang sekaligus sepupu jauh saya. Jarak antara rumah kami dengan rumah sepupu saya itu cukup jauh, mungkin sekitar satu kilometer.
Setiap kami ingin ke sana, Fuad akan datang terlebih dahulu ke rumah saya. Lalu saya dibonceng di atas sepedanya. Saya duduk menyamping di depan Fuad. Kejadian itu terus berulang bila kami ingin bermain ke sana. Tanpa pernah mengeluh capek atau lelah, Fuad terus mengayuh sepeda menyusuri jalan yang kadang menanjak dan menurun, baik waktu berangkat maupun pulang. Kala itu saya tidak pernah membyangkan betapa capeknya mengayuh sepeda yang ditumpangi oleh dua orang. Saya hanya menikmatinya.
—oo0oo—
Di sebuah pesta pernikahan teman, saya bertemu kembali dengan dan teman-teman SD, dan Fuad adalah salah satu dari mareka. Semacam reuni kecil terjadi di sebuah ruang di sebelah pelaminan. Canda dan tawa serta banyolan mengisi percakapan di antara kami. Sekitar satu jam lebih kami larut dalam suasana nostalgia. Karena merasa sudah cukup melepas kangen dan malam juga sudah mulai larut, saya mohon diri untuk pulang. Begitu juga halnya dengan Fuad. Kami pulang bersama-sama sepeti masa-masa bermain dulu. Cuma sekarang berbeda keadaannya, saya tidak lagi dibonceng dengan sepeda Fuad. Saya dan Fuad mengendarai sepeda motor masing-masing. Seiring sejalan beberapa lama, kemudian berpisah di sebuah pertigaan.
———————————-
Orang-orang yang pernah mengisi ruang di hati kita,
insya Allah akan tetap ada,
selama kita tidak ingin melupakan mereka.
Categories:
Tags: about me